Rupiah Menguat, Laba Eksportir Tergerus

Solo, CyberNews. Menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, rupanya berdampak negatif bagi kalangan eksportir. Penguatan tersebut telah menggerus laba dalam perdagangan lintas negara yang menggunakan Dollar sebagai alat pembayaran.
Pemilik Toko Batik Puspa Kencana Achmad Sulaiman mengemukakan, penguatan nilai tukar Rupiah membuatnya harus melakukan penyesuaian perhitungan keuangan perusahaan. Kendati sebanyak 500 hingga 1.000 potong batik dikirim untuk tujuan Malaysia, perhitungan harga tetap menggunakan Dollar AS.
"Bulan lalu, kami masih menggunakan perhitungan 1 Dollar AS dihargai Rp 8.900. Namun, pada kontrak bulan ini sudah menggunakan perhitungan baru. Di mana 1 Dollar AS dihargai Rp 8.600. Mau tidak mau, laba kami sedikit terpangkas," kata dia yang sudah mengekspor batik sejak 1992 silam.
Dia memperhitungkan, setidaknya 5 persen laba tergerus akibat penguatan nilai tukar Rupiah. Hal ini terjadi akibat penentuan harga barang dilakukan di awal perjanjian. Sementara, dibutuhkan waktu setidaknya satu bulan hingga barang diterima pemesan.
"Sudah menjadi resiko eksportir, kalau selama selang waktu itu nilai tukar Rupiah turun. Namun, jika kurs sampai anjlok di luar perhitungan kami, biasanya kami akan meminta nego ulang kepada pemesan," jelasnya.
Akibatnya, baik laba dan penerimaan semakin tergerus. Selain nilai tukar, industri mebel juga masih dihadapkan dengan permasalahan naiknya bahan baku, tarif dasar listrik, UMR, hingga bahan cat.
"Harga Dollar AS sebesar Rp 9.000 merupakan nilai tukar paling ideal. Dengan patokan tersebut, eksportir mebel diperkirakan masih mendapat laba yang optimal," ungkapnya.
Dirjen IKM
Tsunami Jepang : Ekspor Mebel DIJ Gusar

JOGJA – Terjadinya tsunami di Jepang dipastikan akan berimbas pada ekspor mebel dan kerajinan dari Provinsi DIJ. Meski diakui, saat ini belum ada tanda-tanda, namun ancaman seretnya ekspor ke Negeri Sakura itu dipastikan akan terjadi.
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIJ Drs Yuli Sugiarto Memang mengatakan, selama ini ada beberapa jenis kerajinan dan mebel dijual ke Jepang.
“Kota-kota seperti Tokyo, Osaka dan Kobe selama ini menjadi pangsa pasar kami,” katanya. Diakui, kota-kota yang disebut itu tidak terkena dampak tsunami yang parah seperti di Sendai. Sehingga belum ada pembatalan pesanan dari pihak Jepang.
Namun jangka yang agak panjang, tsunami itu diyakini akan berpengarus. Hal itu terkait jalur transportasi dan distribusi yang akan mengalami gangguan.
“Pembelian produk mebel dan kerajinan biasanya merupakan pesanan jangka panjang, sehingga yang dimungkinkan adalah masalah penundaan dalam pendistribusiannya,” jelasnya.
Selama ini, prosentase pengiriman mebel dan kerajian dari Jogjakarta ke Jepang memang tidak begitu besar. Namun pengiriman kayu lapis ke Jepang tergolong sangat tinggi. “Sehingga yang paling terasa nanti adalah pengiriman kayu lapis ini,” lanjutnya.
Yuli memprediksikan bahwa recovery bencana di Jepang akan berpengaruh pada perekonomian global. Para pengusaha mebel yang tergabung dalam Asmindo DIJ mengakui ancaman kondisi ekonomi global tersebut. “Harapannya sih hanya penundaan saja dan bukan pembatalan,” katanya.
Seandainya itu harus terjadi, para pelaku industri mebel dan kerajinan di DIJ diminta bisa legowo. Toh selama ini, Jepang bukan merupakan pasar terbesar ekspor mebel dan kerajinan dari DIJ. Menurutnya, pasar terbesar ekspor mebel dan kerajinan DIJ masih pada Amerika dan Eropa. (hes)
Krisis Mesir : Ekspor RI ke Eropa-Afrika Tersendat

Surabaya- Demonstrasi besar di Lapangan Tahrir, Mesir memasuki pekan ketiga dan belum ada tanda akan segera berakhir. Pengusaha Indonesia pun mulai menghitung kerugian akibat mandeknya ekspor ke negeri Piramid ini.
Kondisi makin buruk karena ada sinyal terusan Suez akan lumpuh akibat mogok massal kalangan pekerja/butuh. Artinya, pengiriman barang ke Eropa dan Afrika berisiko terganjal.
“Potensi kehilangan sampai 100 juta dollar atau sekitar Rp 900 miliar dari Mebel saja, karena barang kita 85% melalui Terusan Suez,” kata Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono, Kamis (10/2).
Menurutnya, saat ini Mesir masih menempati urutan ke-7 dari kontribusi ekspor ke pasar Timur Tengah dengan nilai ekspor 2010 sebesar 3,922 juta dollar (Rp 35,3 miliar). Sementara total ekspor pasar Timur Tengah mencapai 64,681 juta dollar (Rp 582,2 miliar). Ambar menjelaskan, potensi kehilangan itu dihitung dari potensi kehilangan ekspor dari negara Eropa yang mencapai 40 juta dollar (Rp 360 miliar), karena seluruh barang furnitur Indonesia melalui Mesir. Selain itu, produk furnitur Indonesia untuk pasar Afrika juga melalui Mesir dengan potensi hingga 50 juta dollar (Rp 450 miliar).”Jadi kerugiannya tidak hanya dari potensi pasar ekspor furnitur ke Mesir yang hanya 4 juta dollar atau sekitar Rp 36 miliar. Tapi juga ekspor ke Eropa dan afrika,” katanya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tiga negara tujuan utama ekspor Indonesia ke Uni Eropa adalah Jerman, Perancis dan Mesir. Ekspor Indonesia ke Jerman rata-rata Rp 2,68 triliun/tahun. Sementara ke Prancis Rp1,009 triliun dan Inggris Rp1,52 triliun/tahun. Rencananya untuk menekan risiko itu, pihaknya akan berupaya mengalihkan pasar ke negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Uni Emirat Arab, Iran, Iraq, atau bahkan negara-negara Afrika seperti Libia.”Potensi yang dari Mesir harus dilarikan ke negara sekitarnya. Tapi untuk jalan ke Eropa dan Afrika, ini yang sulit,” ucapnya. Irak dan Iran menjadi incaran karenanya kedua negara tersebut selama ini mengandalkan furnitur Malaysia dan China, yang notabene kualitasnya kurang bagus.
Tak hanya ekspor, investasi pengusaha Indonesia di Mesir juga terancam gagal. Untuk diketahui selama ini pengusaha melakukan investasi di sektor pengolahan enceng gondok. Kerjasama ini menggandeng perusahaan lokal asal Mesir Baraka Group.Pihak Indonesia telah menyiapkan investasi Rp 5 miliar, selebihnya dana investasi akan ditanggung oleh Baraka maupun pemerintah Mesir.
Penghentian ekspor ke Mesir juga diakui Ketua Kadin untuk kawasan Timur Tengah Fachri Thalib.”Kita hentikan sementara sampai situasi aman,” katanya.
Gejolak politik yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini menurutnya akan menurunkan nilai ekspor ke Mesir, yang mulai berlangsung sejak tahun 2000, mencapai sekitar 700 juta dolar AS setiap tahunnya.
Mogok Kerja
Sementara kondisi Mesir masih terus memanas. Kini puluhan ribu pekerja melancarkan aksi mogok di berbagai kota di Mesir. Ini menambah tekanan bagi rezim Hosni Mubarak. Selain meminta Mubarak untuk turun, mereka juga menuntut kenaikan upah minimun yang sejak 24 tahun tidak ada perubahan.
Menurut stasiun berita Al Jazeera, sekitar 20.000 buruh mulai mogok kerja sejak Rabu (9/2). Sementara dilansir kantor berita Associated Press, sedikitnya 8.000 demonstran, terutama petani, di kota Assiut memblokir jalan menuju Kairo menggunakan pohon kurma yang dibakar. Di kota Port Said, dekat Kanal Suez, ratusan pekerja membakar kantor gubernur menuntut perumahan yang layak. Di Kairo, ratusan pekerja perusahaan listrik melakukan aksi diam di depan kantor mereka, menuntut dipecatnya direktur perusahaan tersebut.
Para pekerja transportasi di Kairo menuntut Mubarak turun, jika tidak mereka mengancam akan membuat transportasi kota menjadi lumpuh. Di kota Kharga, sebelah barat daya Kairo, lima demonstran dilaporkan tewas setelah bentrok dengan pasukan keamanan.
Menurut kalangan pekerja kekayaan Mubarak sangat timpang dengan laporan Bank Dunia yang mengatakan 40% dari populasi Mesir hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan 2 dollar/hari. Ditambah lagi, pemerintahan Mubarak pada Selasa lalu menaikkan gaji pegawai negeri hingga 15%, menambah jurang kesenjangan semakin lebar.
Pemerintah Mesir menetapkan upah minimum buruh sebesar 6 dollar (Rp 54 ribu) sejak tahun 1984 dan tidak mengalami perubahan hingga kini. Dilansir dari laman The Wall Street Journal, para buruh juga tidak memiliki kesempatan untuk mendirikan serikat buruh.
Mubarak sendiri meski ngotot tak mau mundur tapi disebut-sebut telah menyiapkan rencana mengungsi ke Jerman bilamana situasi di negerinya semakin keruh. Hal itu diungkapkan media terkemuka di Jerman, Der Spiegel. Tahun lalu Mubarak baru saja ke Jerman. Ia menjalani operasi kantong empedu dan polip di Klinik Universitas Heidelberg. “Ia akan menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan di spa kesehatan termewah di Eropa,” demikian dilansir Der Spiegel.